Selasa, 23 Februari 2010

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN ANAK

PENGARUH KESHALIHAN ORANG TUA

Keshalihan kedua orang tua memberi pengaruh kepada anak-anaknya. Bukti pengaruh ini bisa dilihat dari kisah Nabi Khidhir yang menegakkan tembok dengan suka rela tanpa meminta upah, sehingga Musaq menanyakan alasan mengapa ia tidak mau mengambil upah. Allah 'Azza Wa Jalla berfirman memberitakan perkataan Nabi Khidhir, yang artinya:

Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaan dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Rabbmu dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. (Qs. al-Kahfi/18:82).

Dalam menafsirkan firman Allah 'Azza Wa Jalla “dan kedua orang tuanya adalah orang shalih,” Ibnu Katsir berkata: “Ayat di atas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat, berkat ketaatan dan syafaatnya kepada mereka, maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orang tuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`ân dan as-Sunnah”.1 Allah telah memerintahkan kepada kedua orang tua yang khawatir terhadap masa depan anak-anaknya agar selalu bertakwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar dan berbagai macam amal ketaatan lainnya, sehingga dengan amalan-amalan itu Allah akan menjaga anak cucunya.

{mospagebreak}

Allah 'Azza Wa Jalla berfirman, yang artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Qs. an-Nisâ‘/4:9).

Dari Said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu'anhu, berkata: “Allah 'Azza Wa Jalla mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orang tuanya tenang dan bahagia. Kemudian beliau membaca firman Allah, (yang artinya):

‘Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya’.” (Qs. ath-Thûr/52:21).2

Ibnu Syahin meriwayatkan, bahwasanya Haritsah bin Nu‘man Radhiallahu'anhu datang kepada Nabi Shallallahu'alaihi Wa Sallam namun ia sedang berbicara dengan seseorang hingga ia duduk tidak mengucapkan salam, maka Jibril 'Alaihissalam berkata: “Ketahuilah bila orang ini mengucapkan salam, maka aku akan menjawabnya?” Nabi Shallallahu'alaihi Wa Sallam berkata kepada Jibril 'Alaihissalam: “Kamu kenal dengan orang ini?” Jibril 'Alaihissalam menjawab: “Ya, ia termasuk delapan puluh orang yang sabar pada waktu perang Hunain yang telah dijamin rizki oleh Allah bersama anak-anak mereka nanti di surga”.3

Syaikh Shiddiq Hasan Khân Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin, meskipun amalan mereka di bawahnya, agar orang tuanya tenang dan bahagia, dengan syarat mereka dalam keadaan beriman dan telah berumur baligh bukan masih kecil. Meskipun anak-anak yang belum baligh tetap dipertemukan dengan orang tua mereka”.4

Cara yang paling tepat untuk meluruskan anak-anak harus dimulai dengan melakukan perubahan sikap dan perilaku dari kedua orang tua. Begitu pula dengan merubah sikap dan perilaku kita kepada kedua orang tua kita, yaitu dengan berbuat baik dan taat kepadanya, serta menjauhi sikap durhaka kepadanya. Kita harus menanamkan komitmen dan berpegang teguh terhadap syariat Allah pada diri kita dan anak-anak. Barang siapa yang belum sayang kepada diri sendiri dengan berbuat baik kepada kedua orang tua, maka hendaklah segera bersikap sayang kepada anak-anaknya, yaitu dengan berbuat baik kepada orang tuanya agar nantinya anak cucunya berbuat baik kepadanya, sehingga mereka selamat dari dosa durhaka kepada kedua orang tua dan murka Allah. Karena anak-anak saat ini adalah orang tua di masa yang akan datang dan suatu ketika ia akan merasakan hal yang sama ketika menginjak masa tua.

{mospagebreak}

MENCERMATI PENGARUH LINGKUNGAN

Lingkungan mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk dan menentukan perubahan sikap dan perilaku seseorang, terutama pada generasi muda dan anak-anak. Bukankah kisah pembunuh 99 nyawa manusia yang akhirnya lengkap membunuh 100 nyawa itu berawal dari pengaruh buruknya lingkungan? Sehingga, nasihat salah seorang ulama supaya pembunuh tersebut mampu bertaubat dengan tulus dan terlepas dari jeratan kelamnya dosa, ialah agar ia meninggalkan lingkungan tempatnya bermukim dan pindah ke suatu tempat yang dihuni orang-orang baik yang selalu beribadah kepada Allah.5

Anak merupakan anugerah, karunia dan nikmat Allah yang terbesar yang harus dipelihara, sehingga tidak terkontaminasi dengan lingkungan. Oleh karena itu, sebagai orang tua, maka wajib untuk membimbing dan mendidik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dan menjauhkan anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan. Wajib mencarikan lingkungan yang bagus dan teman-teman yang istiqâmah. Keluarga adalah lingkungan pertama dan mempunyai peranan penting dan pengaruh yang besar dalam pendidikan anak. Karena keluarga merupakan tempat pertama kali bagi tumbuh kembangnya anak, baik jasmani maupun rohani. Keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk aqidah, mental, spiritual dan kepribadian, serta pola pikir anak. Yang kita tanamkan pada masa-masa tersebut akan terus membekas pada jiwa anak dan tidak mudah hilang atau berubah sesudahnya. Adapun bagi seorang pendidik, ia harus menjauhkan anak didiknya dari hal-hal yang membawa kepada kebinasaan dan ketergelinciran, serta mengangkat derajat mereka dari derajat binatang menjadi derajat manusia yang mempunyai semangat untuk mengemban amanat dan tugas agama. Sebagai pendidik, seseorang harus menjadikan kepribadian Rasul Shallallahu'alaihi Wa Sallam sebagai suri tauladan dalam seluruh aspek kehidupan dan dalam setiap proses pendidikan. Mengajak mereka untuk mengikuti jejak salafush-shalih serta memberi motivasi anak didik agar selalu bersanding dengan ulama dan orang-orang shalih. Seorang pendidik juga harus memahami dampak buruk yang disebabkan oleh keteledoran dalam mendidik anak. Dan ia harus mewaspadai faktor-faktor yang bisa mempengaruhi proses pendidikan anak, yaitu lingkungan rumah, sekolah, media cetak dan elektronik, teman bergaul, sahabat serta pembantu.

{mospagebreak}

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN ANAK

A. Rumah.

Rumah adalah tempat pendidikan pertama kali bagi seorang anak dan merupakan tempat yang paling berpengaruh terhadap pola hidup seorang anak. Anak yang hidup di tengah keluarga yang harmonis, yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah 'Azza Wa Jalla, sunah-sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi Wa Sallam ditegakkan dan terjaga dari kemungkaran, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang taat dan pemberani. Oleh karena itu, setiap orang tua muslim harus memperhatikan kondisi rumahnya. Ciptakan suasana yang Islami, tegakkan sunnah, dan hindarkan dari kemungkaran. Mohonlah pertolongan kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang bertauhid, berakhlak dan beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah serta mengikuti jejak para salafush-shalih. Nabi Shallallahu'alaihi Wa Sallam bersabda:



Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan; sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah.6 Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk memperbaiki rumah supaya tidak seperti kuburan dan menjadi sarang setan, sehingga anak-anak yang tumbuh di dalamnya jauh dari Islam, bahkan kemungkaran setiap saat terjadi di rumahnya dan percekcokan orang tuanya mewarnai hidupnya, maka tidak disangsikan anak akan tumbuh menjadi anak yang keras dan kasar.

{mospagebreak}

B. Sekolah.

Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.

Begitu juga para pengajar berasal dari berbagai latar belakang pemikiran dan budaya serta kepribadian. Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah memiliki komitmen terhadap aqidah yang lurus? Ataukah sebagai pengekor budaya dan pemikiran Barat yang rusak? Ataukah para pengajar memiliki pemikiran dan keyakinan yang dibangun berdasarkan nilai agama? Ataukah hanya sekedar pengajar yang menebarkan racun pemikiran dan budaya busuk, sehingga menghancurkan anak-anak kita? Seorang pengajar merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam mengambil semua nilai dan pemikiran tanpa memilah antara yang baik dengan yang buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar dan ditiru. Sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan pemikiran anak. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus membekali diri dengan ilmu dîn (agama) yang Shahîh sesuai dengan pemahaman Salafush-Shalih dan akhlak yang mulia, serta rasa sayang kepada anak didik. Dan tidak kalah penting, dalam membentuk kepribadian anak di sekolah, adalah kurikulum pendidikan. Apakah kurikulum tersebut berasal dari manhaj Islam, sehingga dapat mendukung untuk menegakkan ajaran Allah, sunnah Rasul dan ajaran Salafus-Shalih? Ataukah hanya sekedar menegakkan nilai dan wawasan kebangsaan, semangat nasionalisme dan kesukuan?

{mospagebreak}

C. Media Elektronik dan Cetak.

Kedua media ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan, tingkah laku dan kepribadian anak. Kalau orang tua tidak berhatihati dan waspada terhadap kedua media ini. Tidak jarang anak-anak akan tumbuh sebagai mana yang ia peroleh dari kedua media ini.

1. Radio dan Televisi

Dunia telah terbuka lebar bagi kita, dan dunia pun sudah berada di hadapan kita, bahkan di depan mata kita melalui beragam channel TV. Sarana-sarana informasi, baik melalui beragam radio dan televisi memiliki pengaruh yang sangat berbahaya dalam merusak pendidikan anak.

Dari sisi lain, radio dan televisi sebagai sumber berita, wahana penebar wacana baru, menimba ilmu pengetahuan dan menanamkan pola pikir pada anak. Namun kedua media itu juga menjadi sarana efektif dan senjata pemusnah massal para musuh Is-lam untuk menghancurkan nilai-nilai dasar Islam dan kepribadian islami pada generasi muda, karena para musuh selalu membuat rencana dan strategi untuk menghancurkan para pemuda Islam, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Dalam buku Protokolat, para pemuka Yahudi menyatakan, bila orang Yahudi hendak memiliki negara Yahudi Raya, maka mereka harus mampu merusak generasi muda. Oleh karena itu, mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menjerat generasi muda, terutama anak-anak. Mereka berhasil menebarkan racun kepada generasi muda dan anak-anak melalui tayangan film-film horor atau mistik yang mengandung unsur kekufuran dan kesyirikan. Tujuannya, ialah untuk menanamkan keyakinan dan pemikiran yang rusak pada para pemuda dan anak-anak. Misalnya, seperti film-film yang berjudul atau bertema Manusia Raksasa, Satria Baja Hitam, Xena, Spiderman. Atau seperti halnya film-film Nusantara yang kental dengan nilai-nilai yang merusak moral dan lain-lain. Atau film dunia hewan, seperti Ninja Hatori dan Pokemon. Atau film peperangan antara makhluk luar angkasa dengan penduduk bumi, atau manusia planet yang menampilkan orang-orang telanjang yang tidak menutup aurat dan mengajak anak-anak untuk hidup penuh romantis atau berduaan antara wanita dan laki-laki yang bukan mahram, atau melegalisasi perbuatan zina sehingga mereka melakukan zina dengan mudah, gampang dan bukan suatu aib, serta tidak perlu dihukum; bahkan dalam pandangan mereka orang yang mampu merebut wanita dari tangan orang lain dianggapnya sebagai pahlawan. Lebih parah lagi, film-film sejenis itu banyak ditayangkan dan cukup banyak diminati oleh kalangan muda dan orang dewasa.

Acara televisi seperti itu sangat berbahaya. Ia dapat menghancurkan kepribadian dan akhlak anak, serta merobohkan sendi-sendi aqidah yang telah tertanam kokoh, sehingga para pemuda menjadi generasi yang labil dan lemah, tidak memiliki kepribadian.

Ada seorang dokter yang kini aktif di salah satu yayasan. Di salah satu stasiun televisi, dia bercerita bahwa dirinya mulai mencoba merokok sejak kelas 4 SD, kemudian minum minuman keras, menghisap ganja, dan itu terus berlangsung hingga saat kuliah di kedokteran dengan kadar semakin besar. Yang menarik disini, ternyata yang menjadi motivasi sang dokter ini melakukan hal itu, karena ia ingin meniru gaya yang ditampilkan di dalam film koboi, bahwa seorang tokoh koboi kelihatan gagah berani dengan menenggak minuman keras. Sang dokter juga mengatakan, selama melakukan hal itu tidak ada yang memberi pengajaran atau pun mengingatkannya. Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dan waspada terhadap bahaya televisi.

{mospagebreak}

2. Internet.

Dari hari ke hari, semakin nampak jurang pemisah antara peradaban Barat dan fitrah manusia. Setiap orang yang menggunakan hati kecil dan pendengarannya dengan baik, pasti ia akan menyaksikan, betapa budaya Barat telah merobek dan mencabik-cabik nilai kemanusiaan, seperti dalam hal internet. Media ini telah menyumbangkan dampak negatif, sebab bahaya yang timbul dari internet lebih banyak daripada manfaatnya. Bahkan media ini sudah mengenyampingkan nilai kemuliaan dan kesucian dalam kamus kehidupan manusia. Misalnya, ada suatu situs khusus yang menampilkan berbagai gambar porno, sehingga dapat menjerat setiap muda mudi dengan berbagai macam perbuatan keji dan kotor. Akibat yang ditimbulkan ialah kehancuran. Inilah perang pemikiran yang paling dahsyat dan berbahaya yang dicanangkan Yahudi untuk menghancurkan nilai Islam dan generasi muslim. Banyak negara-negara Eropa dan Arab merasa sangat terganggu dan mengalami berbagai kenyataan pahit akibat kehadiran media internet ini. Wahai para pendidik, jagalah anak-anakmu dari bahaya racun media tersebut!

3. Telepon.

Manfaat telepon pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi, dan bahkan telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin cepat dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu menjangkau seluruh belahan dunia. Namun sangat disayangkan, ternyata kenikmatan tersebut berubah menjadi petaka dan bencana yang menghancurkan sebagian rumah tangga umat Islam.

Telepon, jika tidak digunakan sesuai dengan manfaatnya, maka tidak jarang justru akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim. Seringkali kejahatan menimpa keluarga muslim berawal dari telepon, baik berupa penipuan, pembunuhan, maupun perzinaan. Dan yang sering terjadi, baik pada remaja maupun orang dewasa, yaitu hubungan yang diharamkan bermula dari telepon. Karena dengan telepon, kapan saja hubungan bisa terjalin dengan mudah; apalagi sekarang, alat ini semakin canggih dan biayapun semakin murah.

Ada sebuah kisah nyata, seorang gadis belia menyerahkan kehormatannya kepada seorang laki-laki yang haram untuknya karena telepon. Awalnya, dari saling berbicara kemudian mengikat janji untuk bertemu, dan akhirnya perbuatan keji terjadi. Akhirnya, siapakah yang nanggung derita? Banyak juga terjadi, seorang ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga berselingkuh berawal dari telepon, wa iyyadzubillah.

Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh pesawat ini. Gunakan telepon dengan semestinya. Hindari penggunaan yang tidak penting, disamping menghemat biaya juga terhindar dari bahaya. Dan yang perlu diwaspadai, telepon dengan lawan jenis, baik seorang murid dengan gurunya, atau seorang thalabul ‘ilmi dengan ustadz, apalagi di antara para remaja putra maupun putri; karena setan tidak akan membiarkan kalian selamat dari jeratannya. Allahu musta’an.

{mospagebreak}

4. Majalah dan Cerpen Anak

Majalah dan buku-buku cerita sangat berperan penting dalam membentuk pola pikir dan ideologi anak. Sementara itu, majalah anak yang beredar di negeri kita, baik majalah anakanak maupun majalah remaja, isinya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Yang banyak ditonjolkan adalah syahwat dan hidup konsumtif. Ironisnya, media ini banyak dijadikan sebagai rujukan oleh anak-anak dan para remaja kita. Pengaruh majalah tersebut sangat besar dalam mempengaruhi generasi muda, sehingga banyak kita temui gaya hidup dan pola pikir mereka meniru dengan yang mereka dapatkan dari majalah yang kebanyakan pijakannya diambil dari budaya orang-orang kafir.

Padahal Al-Qur‘an yang mulia, banyak memuat cerita-cerita, seperti kisah tentang sapi Bani Israil, kisah tentang Ashabul-Kahfi dan pemilik kebun dalam surat al-Kahfi, kisah pertarungan antara kekuatan hak dengan batil, dan kisah-kisah umat-umat zaman dahulu yang diberi sanksi Allah akibat pelanggaran mereka terhadap perintah-Nya, serta seluruh kisah-kisah para nabi dan rasul. Disamping itu, masih banyak kisah-kisah yang benar dari as- Sunnah untuk menanamkan keteladanan para sahabat dan umat sebelumnya.

Oleh sebab itu, majalah dan buku-buku cerita memiliki peran yang sangat urgen, memiliki pengaruh sangat signifikan dalam membentuk pola pikir dan tingkah laku serta pendidikan anak. Anak-anak sangat gemar dan tertarik dengan berbagai kisah, karena kisah mengandung daya tarik, hiburan, lelucon, kepahlawanan, amanah, dan kesatriaan.

5. Komik dan Novel.

Komik banyak digandrungi oleh anakanak kecil atau remaja, bahkan orang dewasa. Namun bacaan ini, sekarang banyak memuat gambar-gambar yang tidak sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak. Begitu pula novel, rata-rata berisi percintaan, dongeng palsu, cerita legendaris, penuh dengan muatan syirik dan kekufuran, serta cerita romantika picisan.

{mospagebreak}

D. Teman dan Sahabat.

Teman memiliki peran dan pengaruh besar dalam pendidikan, sebab teman mampu membentuk prinsip dan pemahaman yang tidak bisa dilakukan kedua orang tua. Oleh sebab itu, Al-Qur‘ân dan as-Sunnah sangat menaruh perhatian dalam masalah persahabatan.

Allah berfirman, yang artinya:

Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. (Qs. al-Kahfi/18:28).

Allah berfirman memberitakan penyesalan orang kafir pada hari Kiamat, yang artinya: Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur‘an ketika Al-Qur‘an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. (Qs. al-Furqân/25:28-29).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu'anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu'alaihi Wa Sallam bersabda:

Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian melihat teman bergaulnya.7

Dari Abu Musa al-Asy’ari, ia bersabda:

Sesungguhnya, perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka kamu kemungkinan dia memberimu hadiah atau engkau membeli darinya atau mendapatkan aromanya; dan adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau menemukan bau anyir.8

Sahabat memberi pengaruh dan mewarnai perilaku temannya, seperti kata Imam Syafi’i dalam syairnya:

Saya mencintai orang-orang shalih walaupun aku tidak seperti mereka.
Semoga dengan mencintai mereka aku mendapatkan syafaat-Nya.
Aku membenci seseorang karena kemaksiatannya,
meskipun kami dalam hal perbelakan hampir sama.9

Wahai para pendidik, pilihkan untuk anakanakmu teman yang baik sebagaimana engkau memilihkan untuk mereka makanan dan pakaian yang terbaik.

{mospagebreak}

E. Jalanan.

Jalanan tempat bermain dan lalu lalang anakanak terdapat banyak manusia dengan berbagai macam perangai, pemikiran, latar belakang sosial dan pendidikan. Dengan beragam latar belakang, mereka sangat membahayakan proses pendidikan anak, karena anak belum memiliki filter untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk.

Di sela-sela bermain, anak akan mengambil dan meniru perangai serta tingkah laku temannya atau orang yang sedang lewat; sehingga terkadang mampu merubah pemikiran lurus menjadi rusak, apalagi mereka mempunyai kebiasaan rusak, misalnya perokok, pemabuk dan pecandu narkoba; maka mereka lebih cepat menebarkan kerusakan di tengah pergaulan anak-anak dan remaja.

F. Pembantu dan Tetangga.

Para pembantu memiliki peran cukup signifikan dalam pendidikan anak, karena pembantu mempunyai waktu yang relatif lama tinggal bersama anak, terutama pada usia balita. Sedangkan pada fase tersebut, anak sangat sensitif dari berbagai macam pengaruh. Pada masa usia itu merupakan masa awal pembentukan pemikiran dan aqidah, serta emosional. Begitu juga tetangga, mereka bisa membawa pengaruh, karena anak-anak kita kadang harus bermain ke rumahnya.

Waspadalah, wahai kaum muslimin! Jagalah anak-anak kalian dari semua pengaruh yang bisa merusak pendidikkan anak-anak kalian. Bekali mereka dengan aqidah yang shahih dan akhlak mulia. Ajarkan kepada mereka sirah Nabi Shallallahu'alaihi Wa Sallam dan perjalanan hidup para ulama. Tanamkan pula kesabaran dalam menunaikan segala kewajiban yang diperintahkan Allah, dan kesabaran dalam meninggalkan apa yang dilarang Allah. Jangan biarkan anak-anak kita terpengaruh oleh tingkah laku dan perangai orang-orang yang rusak dan jahat; yang dengan sengaja membuat strategi dan tipu daya untuk menghancurkan generasi umat Islam.



1 Tafsîr Ibnu Katsir, 5/ 141.
2 Lihat Tafsîr Jami‘ul-Bayan fî Tafsîril-Qur‘ân, ath-Thabari.
3 Riwayat Thabrani di dalam al-Kaba‘ir 3/227/(3225), dan disebutkan pula oleh Ibnu Hajar di dalam Ashabah, 1/312. Lihat pula Majma’uz-Zawaa‘id, 9/314.
4 Lihat Tafsîr Fathul-Bayân, Shiddiq Hasan Khân, 6/434.
5 Merujuk hadits riwayat al-Bukhari, no. 3470, Muslim no. 2766 (-red)
6 Shahîh, diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahîh-nya dalam kitab Shalat Musafirin (1821).
7 Shahîh, diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (4833), at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (2379), dan beliau berkata: “Hadits ini hasan,” dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 2/ 303, 334.
8 Shahîh, diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam Shahîh-nya (2101) dan Imam Muslim dalam Shahîh-nya (6653).
9 Lihat Diwan Imam as-Syafi’i, hlm. 79.

AMPUNAN ALLAH SANGATLAH LUAS

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﺻﻼﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻼﻡ : قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً .

Dari Anas bin Mâlik radhiallahu'anhu , beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, 'Wahai, anak Adam! Sungguh selama engkau berdoa kapada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni semua dosa yang ada pada engkau, dan Aku tidak peduli. Wahai, anak Adam! Seandainya dosa-dosamu sampai setinggi awan di langit, kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli. Wahai, anak Adam! Seandainya engkau menemui-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku sedikit pun, tentulah Aku akan memberikan pengampunan sepenuh bumi'."

TAKHRIJ HADITS 1
Hadits ini diriwayatkan dari dua sahabat Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam , yaitu Anas bin Mâlik radhiallahu'anhu dan Abu Dzar al-Ghifâri radhiallahu'anhu .
Hadits Anas bin Mâlik radhiallahu'anhu diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 3540 (dalam Tuhfah 9/487-488), dan Imam at-Tirmidzi rahimahullah menilainya sebagai hadits hasan. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni t menyatakan, para perawinya (hadits Anas) tsiqah, kecuali Katsîr bin Fâ`id yang hanya direkomendasikan oleh Ibnu Hibbân rahimahullah .
Dalam kitab at-Taqrîb, Ibnu Hajar rahimahullah menyebut Katsîr bin Fâ`id hanyalah perawi yang maqbûl.2hasan sebagaimana pendapat Imam at-Tirmidzi, karena memiliki hadits penguat dari sahabat lainnya, yaitu hadits Abu Dzar al-Ghifâri radhiallahu'anhu .
Hadits Abu Dzar al-Ghifâri radhiallahu'anhu diriwayatkan oleh ad-Dârimi dalam Sunan-nya (2/322) dan Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam Musnad-nya (5/172). Adapun al-Hâkim rahimahullah dalam al-Mustadrak (4/241) meriwayatkan hadits ini secara ringkas, dan adz-Dzahabi rahimahullah menyetujuinya.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni rahimahullah juga menyatakan, ada hadits dari sahabat lainnya yang menguatkan hadits-hadits di atas. Yaitu sebagaimana diriwayatkan ath-Thabrâni rahimahullah di dalam kitab Mu'jam, dari Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhu dan sudah ditakhrij dalam kitab ar-Raudh an-Nadhîr (432). Syaikh al-Albani rahimahullah memasukkan hadits ini ke dalam kitab Shahîh Sunan at-Tirmidzi. Sedangkan hadits Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhu ini diriwayatkan ath-Thabrani t dalam Mu'jamul-Kabîr no. 12346 dan Mu'jamush-Shaghîr no. 820.
Wallahu a'lam.

MUFRADÂT HADITS3

1. Pernyataan إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي , bermakna selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku.
2. Pernyataan غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ , bermakna Aku memberi ampunan atas semua kemaksiatan walaupun berulang-ulang dan banyak.
3. Pernyataan وَلَا أُبَالِي , bermakna Aku tidak meremehkan permohonan ampunanmu kepada-Ku, walaupun dosa yang engkau miliki besar atau banyak. Sedangkan Imam ath-Thibii rahimahullah memberi makna, tanpa dengan menanyakan apa yang ia kerjakan.
4. Pernyataan عَنَانَ السَّمَاءِ , bermakna awan. Tetapi ada juga yang menyatakan, maknanya adalah semua yang menutupi langit atau yang tampak bagimu dari langit apabila engkau mengangkat kepala ke langit.
5. Pernyataan بِقُرَابِ الْأَرْضِ , bermakna yang hampir sepenuhnya.
6. Pernyataan لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا , bermakna meninggal dalam keadaan bertauhid.

{mospagebreak}

FAIDAH HADITS
Setiap orang pasti berbuat salah, dan betapa banyak kesalahan dan dosa yang diperbuat anak keturunan Adam. Seandainya Allah Ta'ala membalas dengan keadilan-Nya, niscaya setiap dosa dan kesalahan manusia tidak ada yang selamat dari siksaan-Nya. Namun rahmat Allah 'Azza wa jalla sangat luas memenuhi seluruh makhluk-Nya.
Di antara wujud rahmat Allah Ta'ala tersebut, yaitu pengampunan dosa dan kesalahan yang diperbuat hamba-hamba-Nya. Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan ada tiga faktor yang menjadi penyebab dosa manusia mendapat ampunan.

Faktor pertama, yaitu doa dengan mengharap ampunan Allah Tabaraka wa Ta'ala.
Sebagimana dijelaskan dalam sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam :

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي

Wahai, anak Adam! Sungguh selama engkau berdoa kapada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni semua dosa yang ada pada engkau, dan Aku tidak peduli. Doa dengan mengharap ampunan Allah Ta'ala diperintahkan dan dijanjikan akan dikabulkan, sebagaimana firman Allah Ta'ala :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Rabbmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu". (Qs Al Mu'minun/40:60).
Juga dijelaskan dalam hadits an-Nu'mân bin Basyir radhiallahu'anhu , ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ ( وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ) رواه الترمذي

"Do'a itu adalah ibadah," kemudian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah: Dan Rabbmu berfirman: 'Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina'." (Qs Al Mu'minun/40:60).
Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan doa seorang muslim itu mustajab, sebagaimana sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam :

مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ إِذًا نُكْثِرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

"Tidak ada seorang muslim di muka bumi ini berdoa kepada Allah dengan sebuah doa, kecuali Allah mengabulkannya, atau diselamatkan dari kejelekan seperti itu selama tidak berdoa dengan amalan dosa atau memutus kekerabatan". Seorang dari engkau berkata: "Kalau begitu kita perbanyak," Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Allah lebih banyak lagi (mengabulkannya)".4
Demikianlah, Allah Ta'ala menganugerahkan rahmat-Nya kepada hamba yang berdoa memohon untuk dipenuhi kebutuhannya berupa masalah duniawi, lalu Allah Ta'ala alihkan darinya dan menggantinya dengan yang lebih baik. Terkadang dengan diselamatkan dari keburukan, atau dijadikan sebagai simpanan bagi dirinya di akhirat. Atau Allah Ta'ala mengampuni dosanya dengan doa tersebut. Telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا:' إِذًا نُكْثِرُ' قَالَ: ) اللَّهُ أَكْثَرُ ) رواه أحمد.

"Tidak ada seorang muslim yang berdoa dengan satu doa yang tidak ada amalan dosa dan memutus tali kekerabatan, kecuali Allah memberikan salah satu dari tiga hal. Adakalanya doanya segera dikabulkan, atau dijadikan sebagai simpanan untuknya di akhirat, atau ia diselamatkan dari keburukan yang semisalnya". Mereka berkata: "Jika begitu, kami akan memperbanyak (untuk berdoa)?" Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Allah lebih banyak lagi (mengabulkannya)". 5
Kesimpulannya, berdoa memohon ampunan dengan berharap kepada Allah Ta'ala menjadi penyebab seseorang itu mendapat ampunan Allah Ta'ala , walaupun dosanya sangat besar, sebab ampunan Allah Ta'ala lebih besar lagi. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk meminta semua kebutuhan kepada Allah Ta'ala , seperti sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam :

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ وَلَكِنْ لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمْ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ. رواه مسلم.
Apabila salah seorang dari kalian berdoa, jangan mengatakan, "wahai Allah, ampunilah aku jika Engkau suka," namun bersungguh-sungguhlah dalam meminta, dan mintalah yang terbaik. Karena benar-benar tidak ada sesuatu yang berat untuk Allah berikan. 6


Semua dosa hamba itu masih kecil dibandingkan dengan ampunan Allah 'Azza wa jalla . Oleh karena itu ada yang berkata:

يَا رَبِّ إِن عَظُمَت ذُنُوبِى كَثرَةً فَلَقَد عَلِمتُ بِأَنَّ عَفوَكَ أَعظَـمُ
(Wahai, Rabbku! Walaupun dosaku sangat besar, namun aku yakin bahwa ampunan-Mu lebih besar lagi).

إِن كَانَ لا يَرجُوكَ إِلا مُحسِـنٌ فَمَن الَّذِى يَدعُو وَيرجو المُجرِمُ
(Bila tidak berharap kepada-Mu kecuali orang yang baik, maka orang jahat berdoa dan memohon kepada siapa?)

مَا لِى إِلَيكَ وَسِيلَةٌ إِلاَّ الـرَّجَـا وَجَمِيلُ عَفوِكَ ثُمَّ إِنِّى مُسـلـمُ
(Aku hanya memiliki wasilah harapan mendapatkan ampunan-Mu yang indah, kemudian sesungguhnya aku seorang yang berserah diri). Faktor kedua, yaitu istighfar.
Sebagaimana dijelaskan dalam sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam :

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي
Wahai, anak Adam! seandainya dosa-dosamu sampai setinggi awan di langit, kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli.

Hadits ini menjelaskan, bahwa istighfar menjadi salah satu faktor dosa-dosa terampuni, walaupun dosa tersebut setinggi awan di langit atau sepanjang mata memandang. Pengertian ini didukung dengan hadits lainnya yang berbunyi:

لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَمْلَأَ خَطَايَاكُمْ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتُمْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَغَفَرَ لَكُمْ رواه أحمد.
Seandainya kalian melakukan kesalahan hingga kesalahan kalian memenuhi antara langit dan bumi, kemudian kalian memohon ampunan (istighfar) kepada Allah Ta'ala , tentu Allah Ta'ala akan mengampuni kalian.7{mospagebreak}

Pengertian Istighfar.
Kata اسْتَغْفَرَ (istighfar), dalam bahasa Arab bermakna meminta maghfirah (طَلَبُ الْمَغْفِرَة ). Dan المَغْفِرَة , memiliki makna perlindungan dari keburukan dosa, atau penghapusan dari dosa, dan menggantikannya.
Pengampunan dosa ada dua jenis.
1. Penghapusan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada, dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak mulia.
2. Penggantian, sebagaimana firman Allah Ta'ala :

إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
(kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka itu diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang). –Qs al-Furqân/25 ayat 70- dan inilah yang disebut dengan tingkatan maghfirah (ampunan).

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Kata الإسْتِغْفَارَ dalam bahasa Arab mempunyai makna meminta maghfirah ( طَلَبُ الْمَغْفِرَةِ ). Dan kata المَغْفِرَة , bermakna perlindungan dari kejelekan dosa.
Kata al-maghfirah ( المَغْفِرَة ) mempunyai makna tambahan dari kata السَّتْرُ , karena kata المَغْفِرَة bermakna perlindungan dari kejelekan dosa, sehingga seorang hamba tidak disiksa lagi. Orang yang diampuni dosanya tidak akan disiksa. Sedangkan jika sekedar ditutupi (dosa tersebut), maka masih ada kemungkinan disiksa dalam batin, dan orang yang masih disiksa dalam batin atau lahiriahnya, berarti ia belum diampuni.8

Jenis Istighfar.
Jenis istighfar yang terbaik, ialah memulainya dengan memuji Allah Ta'ala, kemudian mengakui dosa, kemudian memohon ampunan kepada Allah Ta'ala . Demikianlah yang disampaikan dalam hadits Syaddad bin 'Aus radhiallahu'anhu yang berbunyi:

عَنْ النَّبِيِّ ﺻﻼﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻼﻡ : [سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ] رواه البخارى.

Dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata: "Sayyidul-istighfar, yaitu ucapan 'Wahai Allah, Engkaulah Rabbku yang tiada sesembahan yang benar kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hambu-Mu, dan berada di atas perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kejelekan perbuatanku. Aku mengakui semua kenikmatan yang Engkau anugerahkan kepadaku dan mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosaku kecuali Engkau'." (HR Imam al-Bukhâri).
Ada beberapa jenis istighfar yang diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selain di atas, di antaranya sebagai berikut.



1. Ucapan أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ , sebagaimana tersebut dalam sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam :

[ مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ] رواه أبو داود والترمذى.

Barang siapa yang mengucapkan: "Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada sesembahan yang benar kecuali Dia yang Maha Hidup dan Maha Qayyum, dan aku bertaubat kepada-Nya," maka Allah akan mengampuninya walaupun dosa karena melarikan diri dari medan perang. 9
Ucapan رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ , sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu 'Umar radhiallahu'anhu yang berbunyi:

كَانَ يُعَدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ ﺻﻼﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻼﻡ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةُ مَرَّةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَقُومَ: ( رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ ) رواه أبوداود والترمذي وأحمد.

Sebelum bangkit dalam sebuah majlis, dihitung sebanyak seratus kali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (mengatakan) "Wahai, Rabbku! Ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi Mahapengampun". 10

Dengan demikian jelaslah, bahwa istighfar menjadi obat penawar dosa. Oleh karena itu, al-Hasan al-Bashri mengatakan, perbanyaklah istighfar di rumah-rumah, hidangan-hidangan makanan, jalan-jalan, pasar dan di majlis-majlis kalian, serta di manapun kalian berada, karena kalian tidak mengetahui kapan ampunan Allah itu turun.11

Faktor ketiga, yaitu tauhid.
Sebagaiman dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

(Wahai, anak Adam! Seandainya engkau menemui-Ku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, kemudian menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku sedikitpun, tentulah Aku akan memberikan pengampunan sepenuh bumi).
Syaikh 'Utsman bin 'Abdul-'Azîz bin Manshûr mengatakan, telah jelas bagimu dengan hadits ini, bahwa di antara faktor penyebab ampunan Allah Ta'ala , yaitu memurnikan tauhid dari kesyirikan, dan inilah faktor yang paling agung dalam pengampunan dosa. Barang siapa yang kehilangan faktor penyebab ini, maka ia kehilangan ampunan. Dan barang siapa yang memilikinya, maka ia telah memiliki faktor yang agung bagi pengampunan dosanya.
Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (Qs an-Nisâ`/4:48).
Oleh karena itu, hadits ini secara jelas menerangkan bahwa seorang muwahhid yang melakukan perbuatan dosa hampir memenuhi bumi, maka Allah Ta'ala akan menjumpainya dengan memberikan ampunan sebesar hampir sepenuh bumi juga. Namun ampunan ini dengan kehendak Allah Ta'ala . Apabila Allah Tabaraka wa Ta'ala menghendakinya, maka akan mengampuninya. Begitu pula jika Allah Ta'ala ingin, maka akan menyiksanya disebabkan oleh dosa-dosanya. Kemudian akhirnya ia tidak kekal di neraka, bahkan akan keluar darinya dan masuk surga. 12
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: "Apabila tauhid seorang hamba dan keikhlasannya kepada Allah telah sempurna, dan ia melaksanakan semua syarat-syaratnya dengan hati, lisan dan anggota tubuhnya, atau dengan hati dan lisannya ketika menjelang kematian, maka hal itu menjadi penyebab ampunan (Allah) terhadap semua dosa-dosanya yang telah lalu dan mencegahnya masuk neraka. Barang siapa yang hatinya terwujud dengan kalimat tauhid, maka kalimat tersebut akan mengeluarkan obyek apapun selain Allah dari dirinya dalam masalah yang berkait dengan kecintaan, pengagungan, penghormatan, rasa segan, takut dan tawakkal. Ketika itu dosa-dosa dan kesalahannya terhapuskan, walaupun seperti buih lautan".13
Pernyataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا merupakan syarat berat dalam janji mendapatkan ampunan. Yaitu selamat dari kesyirikan, baik banyak maupun sedikit, besar maupun kecil. Tidaklah selamat dari perbuatan syirik itu, kecuali orang yang Allah Ta'ala selamatkan, dan itulah hati yang bersih, sebagaimana firman Allah Ta'ala , yang artinya: (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (Qs asy-Syu'ara/26:88-89).14
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan pengertian hadits ini, bahwa orang-orang yang bertauhid murni -tidak mencampurkannya dengan kesyirikan- (ia) dimaafkan dalam hal-hal yang tidak dimaafkan bagi selain mereka. Seandainya seorang muwahhid - yang sama sekali tidak menyekutukan Allah - menemui Rabbnya dengan membawa hampir sepenuh bumi kesalahan, maka Allah l akan memberikan ampunan sebesar itu juga, dan ini tidak didapatkan oleh orang yang tauhidnya kurang. Karena tauhid sejati tanpa tercampur dengan kesyirikan, tidak akan menyisakan dosa. Sebab tauhid tersebut berisikan kecintaan, penghormatan, pengagungan, rasa takut dan harapan kepada Allah 'Azza wa jalla yang menjadikanya bersih dari dosa-dosa walaupun sebesar hampir sepenuh bumi.15
Dari uraian tentang hadits ini, menunjukkan bahwa pahala tauhid itu sangat besar. Begitu pula Allah Ta'ala memiliki keluasan sifat dermawan dan rahmat-Nya kepada para hamba-Nya. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita memperhatikan perkara tauhid ini dan tidak meremehkannya.
Semoga Allah Ta'ala memberikan taufik-Nya kepada kita, dan menjadikan diri kita sebagai hamba-hamba-Nya yang bertauhid sejati.
Wallahu a'lam.

Maraji`:

1. An-Nubadz al-Mustathâbah fil-Da'wah al-Mustajabah, Syaikh Salim bin 'Id al-Hilali, tanpa cetakan dan tahun, Dar Ibnul-Jauzi.
2. Fathul-Hamîd fî Syarh at-Tauhîd, 'Utsmân bin 'Abdul-'Azîz bin Manshûr at-Tamîmi, Tahqiq: Sa'ud bin 'Abdil-'Aziz al-'Arifi dan Husain bin Julai'ib as-Sâ'idi, Cetakan Pertama, Tahun 1425 H, Dar 'Âlam al-Fawâ`id, Mekkah.
3. Fathul-Majid li Syarhi Kitâb at-Tauhîd, Syaikh 'Abdur-Rahmân bin Hasan 'Alu Syaikh, Tahqiq: al-Walid bin 'Abdur-Rahmân bin Muhammad 'Alu Fariyân, Cetakan Kedua, Tahun 1417 H, Dar ash-Shumai'i, Riyadh.
4. Silsilah al-Ahâdîts al-Shahîhah.
5. Syarhu 'Aqîdah ath-Thahâwiyah, Ibnu 'Abil 'Izz, Tahqiq: Syu'aib al-Arnauth, Cetakan Kedua, Tahun 1413H, Muassasah ar-Risalah.
6. Tuhfatul-Ahwadzi bi Syarhi Jâmi' at-Tirmidzi, Syaikh Muhammad 'Abdur-Rahmân bin Abdur-Rahîm al-Mubarakfûri, Cetakan Pertama, Tahun 1419 H, Dar Ihya`ut-Turats al-'Arabi.



1 Lihat takhrîj Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdits ash-Shahîhah, hadits no. 127 (1/250). Juga takhrij Syaikh al-Walid 'Alu Fariyân atas kita Fathul-Majîd (1/149).

2 Menurut Ibnu Hajar dalam kitab at-Taqrib, derajat maqbul sejajar dengan perawi majhûl-hâl, yang riwayatnya ditolak, bila tidak ada yang menguatkannya.

3 Diambil dari Tuhfatul-Ahwadzi bi Syarhi Jâmi' at-Tirmidzi (9/488).

4 HR at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Salim bin 'Id al-Hilali dalam Shahîh Kitab al-Adzkâr wa Dha'îfuhu dan kitab an-Nubadz al-Mustathâbah fid-Da'wah al-Mustajâbah, hlm. 16.

5 HR Ahmad dalam Musnad-nya (3/18), dan dishahihkan Syu'aib al-Arnauth dalam tahqiqnya atas kitab Syarhu 'Aqidah ath-Thahâwiyah, hlm. 682.

6 HR Muslim, kitab al-Dzikr wad-Du'a wat-Taubah wal-Istighfâr, Bab: al-'Azm bid-Du'a, no. 4838.

7 HR Ahmad dalam Musnad-nya (3/238) dan dishahihkan Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdits al-Shahîhah, no. 1951.

8 Lihat Majmu’ Fatâwâ, Ibnu Taimiyyah (10/317).

9 HR Abu Dawud no. 1517, at-Tirmidzi no. 3577, dan dishahihkan Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdits al-Shahîhah, no. 2727.

10 HR Ahmad dalam Musnad-nya 2/21, Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan dishahihkan Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdits al-Shahîhah, no. 556

11 Diriwayatkan al-Baihaqi dalam Syu'abul-Imân. Dinukil dari kitab Fathul-Hamid fî Syarh at-Tauhîd, karya 'Utsmân bin 'Abdul-'Azîz at-Tamîmi (1/298).

12 Fathul-Hamid fî Syarh at-Tauhid, karya 'Utsman bin 'Abdul-'Aziz at-Tamimi (1/300).

13 Diringkas dari kitab Fathul-Majid, lihat 1/151.

14 Bada`i al-Fawa`id, Ibnul-Qayyim (2/133).

15 Dinukil Syaikh 'Abdur-Rahman 'Alu Syaikh dalam Fathul-Majid (1/151-152).
Last Updated ( Monday, 21 January 2008 23:32 )